Runtuhnya Bukalapak menjadi salah satu kabar paling mengejutkan di industri e-commerce Indonesia awal 2025. Setelah 15 tahun beroperasi sebagai salah satu pionir marketplace lokal, perusahaan dengan kode saham BUKA ini resmi menutup layanan penjualan produk fisik. Bagaimana perjalanan panjang dari kos-kosan di Bandung hingga menjadi unicorn pertama yang IPO, lalu berakhir dengan pivot ke produk virtual?
Mari kita bedah kronologi lengkap runtuhnya Bukalapak berdasarkan fakta yang beredar.
Sejarah Berdirinya Bukalapak: Dari Kos di Bandung Untuk UMKM
Sejarah Bukalapak dimulai pada 10 Januari 2010 atas inisiasi tiga mahasiswa ITB: Achmad Zaky, Nugroho Herucahyono, dan M. Fajrin Rasyid.
Visi awalnya sangat sederhana dan mulia: memberdayakan pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) melalui platform digital. Ide tersebut berawal dari komunitas kecil penggemar sepeda lipat dan fixed-gear yang kesulitan menjual sepeda dan aksesori secara online.
Perjalanan awal tidak mudah. Di satu tahun pertama, Bukalapak belum terlihat sebagai bisnis yang menjanjikan karena keterbatasan finansial hingga sempat ingin ditutup. Pada September 2011, Bukalapak resmi berstatus menjadi Perseroan Terbatas (PT) dan mulai dilirik investor, mendapatkan modal dari Batavia Incubator, lalu GREE Ventures pada 2012.
Tahun-Tahun Kejayaan Bukalapak: Era Unicorn Indonesia
Tahun-tahun kejayaan Bukalapak terjadi antara 2013 hingga 2021.
Pada 2013, Bukalapak mencatat transaksi harian rata-rata sebesar Rp 500 juta. Pertumbuhannya melesat pesat hingga pada Januari 2017, Bukalapak resmi menjadi unicorn. Pada 2018, Bukalapak mendapatkan gelar unicorn setelah mendapatkan kucuran dana dari Emtek Grup dan 500 Startups.
Di masa jayanya, Bukalapak mengklaim lebih dari 100 juta pengguna, dengan lebih dari 6 juta pelapak dan 90 juta pengguna aktif. Posisinya sangat kuat, bahkan sempat menyabet penghargaan The Best E-Commerce dari CNBC Indonesia pada 2019.
Puncak Kejayaan Bukalapak: IPO Terbesar Rp21,9 Triliun
Puncak kejayaan Bukalapak terjadi pada tahun 2021. Bukalapak menjadi startup unicorn pertama yang berhasil melakukan penawaran umum perdana saham (IPO) dan melantai di bursa saham.
Pada 6 Agustus 2021, dengan kode emiten BUKA, Bukalapak listing di Bursa Efek Indonesia (BEI). IPO ini menjadi yang terbesar sepanjang sejarah pasar modal Indonesia saat itu, dengan raihan dana Rp21,9 triliun dengan valuasi awal Rp85 triliun. Perusahaan menawarkan 25,7 miliar lembar saham dengan harga Rp850 per saham dan sempat terbang ke Rp1.110 di hari kedua.
Namun di balik euforia itu, laporan keuangan menunjukkan Bukalapak terus merugi. Rp2,24 triliun pada 2018, Rp2,79 triliun pada 2019, dan Rp1,35 triliun pada 2020.
>>> Popup Mobile SEO: Masih Boleh atau Ngga ?
Awal Mula Runtuhnya Bukalapak: Kalah Saing di Pasar Winner-Takes-All
Awal mula runtuhnya Bukalapak terlihat dari persaingan yang tidak seimbang. Di dunia e-commerce yang bersifat winner-takes-all, posisi ketiga sangat sulit.
Data menunjukkan Shopee dan Tokopedia punya 100 juta download, sementara Bukalapak hanya 50 juta. Strategi “bakar uang” untuk growth tanpa jalan jelas menuju profitabilitas membuat burn rate membengkak. Ketika terjadi tech winter, investasi ke startup Indonesia turun drastis dari Rp144 triliun (2021) menjadi Rp25,31 triliun (2023).
Saham BUKA yang dibeli di harga IPO Rp850 pun anjlok hingga tinggal Rp116 pada awal 2025, atau turun 85%.
Penyebab Utama Runtuhnya Bukalapak dan Keputusan Tutup 2025
Pada 7 Januari 2025, Bukalapak resmi mengumumkan akan menutup layanan marketplace dan fokus pada penjualan produk virtual.
Penyebab utama runtuhnya Bukalapak secara resmi adalah transformasi bisnis. Dalam keterangan resminya, manajemen mengatakan: “Bukalapak akan menjalani transformasi dalam upaya untuk meningkatkan fokus pada produk virtual. Sebagai bagian dari langkah strategis ini, kami akan menghentikan operasional penjualan produk fisik”.
Fakta finansialnya, kontribusi penjualan produk fisik hanya sekitar 3% dari total pendapatan perusahaan. Sementara model bisnis O2O dan produk virtual seperti pulsa prabayar, token listrik, pembayaran BPJS Kesehatan, PDAM, pajak, dan paket data memiliki margin lebih tinggi dan potensi pertumbuhan yang lebih berkelanjutan untuk mencapai EBITDA positif.
Kronologi Resmi Runtuhnya Bukalapak: Jadwal Penutupan Marketplace
Runtuhnya Bukalapak sebagai marketplace fisik dilakukan secara bertahap:
- 7 Januari 2025: Pengumuman resmi penutupan layanan marketplace
- 9 Januari 2025: Penghentian operasional penjualan produk fisik
- 1 Februari 2025: Penonaktifan fitur penambahan produk baru
- 9 Februari 2025 pukul 23:59 WIB: Batas akhir pemesanan produk fisik. Setelah tanggal ini, tidak ada lagi layanan penjualan produk barang fisik
- 2 Maret 2025: Pembatalan otomatis pesanan yang belum diproses
Setelah itu, Bukalapak fokus sepenuhnya pada produk virtual dan pengembangan Mitra Bukalapak, gaming, retail, dan investasi yang telah menghubungkan 7 juta UMKM untuk kebutuhan pengadaan.
Runtuhnya Bukalapak sebagai marketplace bukan berarti perusahaannya bangkrut. Dengan total kas dan investasi likuid Rp19 triliun, Bukalapak melakukan pivot strategis dari model B2C yang padat modal dan rugi, ke model B2B dan produk virtual yang lebih profitabel. Ini menjadi pelajaran penting bahwa valuasi tinggi unicorn tidak menjamin keberlanjutan jika unit economics tidak sehat dan kalah dalam persaingan pasar digital Indonesia.



