Amazon, tidak dipungkiri adalah salah satu raksasa dunia dibidang e-commerce. Didirikan pada Mei 1996 oleh Jeff Bezos, Lulusan Universitas Princeton, pernah bekerja sebagai analis keuangan untuk D. E. Shaw & Co. sebelum mendirikan Amazon pada tahun 1994. Ia pernah dipilih sebagai Person of the Year oleh majalah TIME.

Dan saat ini ia adalah pendiri, chairman, CEO, presiden dan pemilik saham mayoritas Amazon.

Amazon seperti yang kita kenal, adalah e-commerce yang berlokasi di Seattle USA. Raksasa ecoomerce ini menjual hampir semua produk fisik khusunya elektronik terbesar yang menjangkau hampir keseluruh dunia. Kompetitor terdekat adalah Alibaba dan kompradornya sendiri yaitu eBay.

Saking mewabahnya metode penjualannya, hampir semua internet marketer dunia pernah dan masih aktif menjadi affiliate / broker / makelar penjualan produknya. Hingga amazon mengeluarkan sendiri standart identifikasi produk yang kita kenal dengan nama ASIN, Amazon Standard Identification Number.

Denga kode ASIN inilah para affiliate melakukan setting dan pengelompokan produk yang ingin mereka pasarkan di dunia maya. Para produk kreatorpun berlomba2 menciptakan aplikasi/tool/theme/plugin untuk menjembatani usaha ini.

Bisa dibilang, amazon adalah pelopor affiliasi produk e-commerce. Yang saat ini, sudah banyak diterapkan oleh para nu comer, untuk meningkatkan value dan promosi berjenjang yang dilakukan oleh para affiliasi.

Masuk Indonesia

Raksasa teknologi asal Amerika Serikat ini berencana masuk ke Indonesia dengan membawa investasi US$ 1 miliar atau sekitar Rp 14,5 triliun untuk 10 tahun ke depan. Target awal hanyalah ekspansi AWS yaitu bidang komputasi awan (cloud computing).

reviewkita.com

Tapi tidak menutup kemungkinan, suatu saat Amazon akan membawa serta bisnis retailnya ke Indonesia.

Bagaimana ? Apakah siap ?

Jack Ma (pendiri Alibaba) pernah mengatakan, pemain besar itu bagai hiu di samudera luas sedangkan Alibaba adalah buaya di sungai Yangtze. Kalau buaya melawan hiu di sungai Yangtze, buaya akan menang. Itu filosofi pemain lokal,” katanya.

Bukalapak, salah satu perusahaan e-commerce di Indonesia tidak merasa khawatir dengan rencana Amazon ini. Karena menurut President Bukalapak Fajrin Rasyid, investasi Amazon di Indonesia itu itu masih relatif kecil untuk bermain e-commerce, hanya US$ 1 miliar atau sekitar Rp 14,5 triliun dan dilakukan secara bertahap selama satu dekade.

Seperti yang kita ketahui bersama, Alibaba berinvestasi di dua perusahaan e-commerce yang beroperasi di Indonesia, yakni Lazada dan Tokopedia. Dan dengan berbekal filosofi tersebut, Tokopedia ingin menjadi Komodo di kancah e-commerce Indonesia.

Kurang baik

Tokopedia pernah melakukan studi internal mengenai amazon, bahwa rekam jejak perjalanan bisnis mereka tidak cukup baik. Sangat terlihat bahwa sistem mereka menguasai semua rantai distribusi baik dari hulu ke hilir, sehingga membuat tidak ada ruang bagi merchant dan brand lokal, baik itu kecil ataupun pemain besar. Dan ini sangat berbeda dengan sistem e-commerce lokal yang selama ini berjalan di Indonesia.

Besar kemungkinan juga, metode pendekatan ini akan mereka terapkan di Indonesia. Sehingga alangkah baiknya pemerintah dan pelaku usaha di Indonesia perlu persiapkan diri untuk menghadapi kehadiran raksasa tersebut.

Terlepas bagaimana dan seperti kedepannya, jelas bisnis lokal harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri kan ? Usaha UMKM harus mendapat perhatian lebih dari para pemangku kebijakan. Jika bisnis lokal hidup dan mampu mensejahtera-kan, ancaman sebesar apapun dari luar, menjadi tidak ada artinya.